Sejarah Bale Buku Jakarta adalah kisah tentang bagaimana sebuah keresahan anak muda di tengah gang-gang sempit Jakarta bisa berubah menjadi gerakan literasi besar yang diakui pemerintah.

Berikut adalah perjalanan berdirinya Bale Buku Jakarta dari awal:

Pandemi & Kegelisahan (2020)

Bale Buku Jakarta resmi berdiri pada 20 Agustus 2020. Momen ini sangat krusial karena saat itu dunia sedang dihantam pandemi COVID-19. Anak-anak tidak bisa sekolah tatap muka, dan waktu mereka habis hanya untuk bermain gadget (gawai).

Fajar Alvarisi (Inisiator) bersama rekan-rekannya seperti H. Naidih MZ, Ayi Endar Suryadi, dan Sufyan Sauri melihat ada bahaya negatif jika anak-anak terus-menerus terpaku pada layar tanpa ada alternatif kegiatan edukatif yang seru di lingkungan rumah mereka.

“Sulap” Ruang Terbengkalai

Keunikan Bale Buku adalah mereka tidak menunggu punya gedung megah untuk memulai. Mereka memanfaatkan ruang apa pun yang ada di lingkungan padat penduduk di Cakung Barat, Jakarta Timur. Perjalanan awal mereka melibatkan kreativitas “menyulap” tempat-tempat tak terduga:

  • Pos Ronda diubah menjadi perpustakaan mini.
  • Kebun Pisang yang kosong dibersihkan menjadi “Pojok Baca”.
  • Garasi Rumah dialihfungsikan menjadi pusat literasi.
  • Bahkan Kandang Burung pun ada yang diubah menjadi rumah literasi.

Filosofi Nama “Bale”

Nama Bale Buku bukan sekadar merujuk pada “Bale” (balai/tempat duduk) dalam budaya Betawi, tapi juga merupakan singkatan dari:

BA-LE: BAca dan LEstarikan Buku.

Semangatnya adalah membawa buku sedekat mungkin ke depan pintu rumah warga, sehingga membaca bukan lagi kegiatan yang terasa “mahal” atau harus pergi ke perpustakaan pusat yang jauh.

Mengawinkan Literasi dengan Budaya Betawi

Salah satu misi besar pendirinya adalah mematahkan stigma. Mereka ingin membuktikan bahwa anak-anak Betawi tidak hanya jago “otot” atau mengaji saja, tapi juga melek literasi dan punya gagasan edukasi yang kuat.

Oleh karena itu, Bale Buku tidak hanya berisi kegiatan baca tulis, tapi juga melestarikan budaya lokal melalui pengenalan tari, silat Betawi, dan permainan tradisional.

Perkembangan Hingga Saat Ini

Dari satu titik kecil di Cakung Barat, semangat ini menular. Saat ini, Bale Buku Jakarta telah berkembang pesat menjadi lebih dari 12 titik yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta Timur (seperti Condet/Dukuh, Cipayung, Klender, hingga Palmeriam).

Pada tahun 2024, kerja keras mereka membuahkan hasil manis dengan diraihnya penghargaan sebagai Komunitas Literasi Terbaik di DKI Jakarta dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta.

Scroll to Top